Rabu, 24 Oktober 2018

Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 2

Gempa bumi dan tsunami menerjang, Palu pun berguncang. Bumi terbelah, air bergemuruh tumpah ruah. Yang paling membuat iba, anak-anak menangis mencari orang tuanya, ayah memanggil lirih anak istrinya. Dzikir yang bersahut-sahutan menghiasi gendang-gendang telinga petang magrib waktu itu...

Sekitar Pukul 17.45 kami tiba di lokasi Festival Nomoni III yang dipusatkan Sepanjang Pesisir Teluk Palu (dimulai dari ujung Hotel Wina Pantai sampai ujung menuju belokan menuju Swiss Bell Hotel). Hampir di sepanjang teluk masyarakat tumpah ruah, selain menikmati matahari terbenam, juga  tidak ingin ketinggalan moment pembukaan Festival dalam rangka perayaan ulang tahun kota mereka, Kota Palu.

Tim liputan CoE (Calendar of Event) yg tugas saat itu berangkat dengan 3 mobil dan membagi diri, aku bertiga (Frea, Papisher, dan aku sendiri) lebih memilih mengunjungi rumah adat Kaili dengan pameran benda-benda pusakanya. Rumah adat ini persis berada di anjungan ujung kanan jembatan kuning dengan view yg tertata rapi. Di depannya view pantai Talise yg luar biasa indah. Nuansa pepohonan yg rimbun membuat lokasi ini menjadi kelihatan paling spesial diantara lokasi/venue acara lainnya.

Aku keluarkan kamera, memasukkan handphone sambil mencolokkannya di powerbank, lalu memotret sekeliling dengan terkagum kagum. Karena belum ketemu model foto yg bagus, sempat kusuruh Papishare dan Frea berjalan di depanku sebagai model. Beberapa ibu muda dengan anak-anaknya sempat mengganggu pandanganku dari mereka berdua karena minta di foto. Lalu dengan seadanya kufoto mereka dengan ekspresi senang, mungkin mereka menganggapku wartawan media besar.










Keterangan foto : suasana rumah adat Kaili yang terletak di anjungan ujung kanan bawah jambatan Kuning kota Palu.

Di seberang jalan terdengar azan magrib bergema, karena belum kelar motret, ku urungkan niat beranjak. Setelah beberapa menit, suara iqomah memanggil dan aku segera bergegas. Baru saja kaki menginjak jalan aspal ujung kanan jembatan hendak menyeberang, tiba tiba getaran maha dahsyat itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Goyangan gempa 7.4 SR dibarengi suara dentuman membuat semua orang panik. Warga Palu yang biasanya anteng-anteng saja dengan gempa, saat itu terlihat ketakutan, mungkin melebihi ketakutanku selama 1 bulan dilanda gempa di Lombok. Jalan aspal di terbelah, ada yg kemudian tersungkur, tak sangggup berdiri karena digoyang gempa yg begitu lama dan besar. Kupikir, gempa ini adalah gempa terlama yang pernah aku rasakan, beberapa bagian jalan aspal di beberapa sisi amblas dan retakan sepanjang jalan.

1 menit gempa belum berhenti total, orang-orang di sekeliling kemudian berlarian ke arah menjauhi laut. Sempat bengong, ada apa gerangan. Namun ketika mendengar orang orang kemudian berteriak sahut menyahut tentang air laut yang naik, kepalaku tiba-tiba pusing, aku gemetaran, kucoba berdiri namun lutut serasa tak mampu menyangga berat badanku. Kubaca bismillah dan beristigfar berkali kali sambil mencoba bangkit, kemudian ikut berlarian ke sembarang arah sambil melihat lokasi yang lebih tinggi. 5 meter di depanku kulihat Papisher dan Frea berlarian ke arah kiri gedung, yang ku ingat disebelah kiri gedung Polda/Samsat yang kutuju ada jalan raya dan lapangan TVRI. Logikaku sempat bermain, jika aku ikuti mereka, kemungkinan tidak ada tempat tinggi sebagai tujuan dan tsunami akan menghabisi kami. Kupanggil mereka sambil berlari, namun teriakan kepanikan orang orang yang berlarian tak mungkin bisa dikalahkan oleh suaraku yang tiba-tiba parau.

Suasana panik saat air laut mulai naik

Aku bergidik, didepanku tanah-tanah lapang halaman gedung Polda yg ku injak itu tiba-tiba meledak, mengeluarkan semburan lumpur hitam yang entah pipa pembuangan air saluran kamar mandi gedung yang pecah atau memang murni air lumpur yang berasal dari dalam bumi. Ada juga pemandangan anak-anak kecil yang mencoba menaiki pohon pohon kecil yang sudah pasti tidak akan mampu menampung berat badannya yang lebih besar, ada yang tabrakan sesama pelari, bahkan seorang gadis cantik yang berhijab besar itu tiba-tiba tersungkur di depanku karena tersandung sesuatu lalu kemudian menjadi pijakan pelari lain. Hampir saja aku ikut menginjaknya, ingin kutolong untuk sekedar bangun dan ikut berlari, namun suara deru air tsunami sudah terdengar menggelegar begitu dekat di belakang.

Kondisi sepatu yang menjadi licin dan berat karena terkena semburan air lumpur membuatku tidak leluasa. Sambil berlarian sambil kubuka yang sebelah kiri, yang kanan terasa begitu lama terbuka, waktu sudah hampir habis, air sudah melewati jalan raya menuju gedung. Setelah terbuka, aku kemudian mengerahkan tenaga, mencoba berlari sekencang-kencangnya dengan sisa tenaga dan nafas yg ngos-ngosan mengejar teriakan orang-orang yg sudah lebih dulu berada di lantai II gedung itu. Aku sempat menengok ke belakang, ingin memantau pergerakan air, ternyata air tsunami yg setinggi kurang lebih 2-3 meter itu sudah berjarak hanya 5 meter di belakangku. Aku pasrah, tak cukup waktu lagi untuk mengejar tangga menuju lantai II, tak mungkin lagi mencari tempat untuk bersembunyi. Aku tak ada lagi harapan hidup, mungkin inilah saatnya. Sesaat teringat kembali semua salah dan dosa yang pernah kuperbuat, terbayang orang-orang tersayang yang mungkin pernah kuzolimi tanpa kusadari.

Sambil menangis aku memanggil nama-Nya yang Maha Besar, Allahuakbar.... belum selesai lidahku melafalkan kalimat maha agung itu, gelombang setinggi 3 meter sudah menyapu, menerjang, menghantam dan menyeret tubuhku yg tak berdaya kemanapun maunya. Deras, keras, membawa hanyut apa saja yang dilaluinya. Bahkan untuk sekedar mempertahankan posisi bertekuk lutut saja tidak lagi bisa.

Kalimat syahadat tak mampu lagi terucap, hanya sanggup terbaca lirih dihati karena masih dalam pusaran air, terseret, terlempar. Asyhadu a-llaa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah. Hantaman demi hantaman material yang terbawa hanyut membuat dada semakin sesak, aku menahan nafas sambil menahan sakit. Istighfar dan syahadat tak putus dalam angan, berharap jika memang malaikat maut menjemput, mulut dan hati semoga masih dalam ingatan tentang-Nya. 

Sambil terus tergulung dalam air bah yang maha dahsyat itu, kucoba melepas tas yang berisi lensa dan kamera yang hanya masuk setengah (body) nya saja, namun talinya yang bergantungan berlawanan arah dan membentuk X di dadaku, membuatku kesulitan. Tas itu tiba-tiba terasa begitu menyebalkan, begitu berat dan membebaniku. Ya sudah, kudiamkan saja bergelantungan di badanku, aku lebih mencoba fokus menahan nafas sambil terus berzikir. Lebih satu menit paru-paruku ternyata tak cukup kuat bertahan untuk tidak bernafas lebih lama lagi, akhirnya air laut bercampur lumpur dan material beraneka ragam itupun masuk memenuhi tenggorokan. Aku tersedak, tiba tiba kepalaku pusing, sakit sekali. Tubuhku melemah, pasrah.

Tiba tiba sesuatu menabrakku dari belakang begitu keras dan membuat aku terhempas, tergeret ke sebuah tembok. Ini adalah titik balik dari semua proses yang cukup lama itu, aku terhempas dengan posisi berdiri menghadap tembok yang kemudian kutau tembok itu adalah tembok tangga menuju lantai II di gedung yang sebelumnya kutuju. Air tsunami sudah mulai surut, hanya sedada atau entah hanya sampai pinggang, aku lupa. Aku lebih fokus mendengar teriakan diatasku yang memintaku untuk naik, ku ulurkan tangan dan meminta bantuan, 3 orang laki-laki yang maha baik itu kemudian menarikku. Alhamdulillah, aku menangis, sejadi jadinya, tersungkur kemudian bersujud syukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh sang pemilik kehidupan.

Belum tegak badanku bangun dari sujud syukur, bumi bergoyang lagi, keras, seperti sedang di ayunan. Sambil muntah karena mual, aku berlari menuruni tangga, tak ku ingat dibawah ada air tsunami yang kapan saja bisa menghanyutkanku lagi. Sampai di anak tangga terbawah, ternyata kakiku terkena genangan air. Hati dilema, mau turun takut tsunami datang lagi, mau terus naik takut tertimpa reruntuhan. Sungguh tidak ada pilihan yang paling nyaman selain berdiam diri di ujung bawah tangga, kaki berendam setengah di genangan air sisa tsunami sambil melihat-lihat ke atas mengawasi kemungkinan bangunan runtuh.

Tiba tiba dari arah depanku seorang anak perempuan yang seumuran anakku ( 8-9 tahun) meraih tanganku dari samping tangga memohon bantuan, kakinya terendam genangan air dan dia tidak bisa keluar karena sesuatu menahan kakinya di dalam air. Kondisi bajunya basah kuyup, mungkin anak ini juga adalah orang-orang terpilih dan beruntung sepertiku, sempat tergulung tsunami dan masih diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Aku menangis, tiba-tiba saja kuingat Claura, anakku disana, kuberanikan diri turun ke genangan air, ku singkirkan material-material yang menghambatnya naik ke tangga. Setelah diatas tangga anak itu kemudian menangis, memelukku, erat, tak ingin lepas. Dia mencari ibunya, dadaku sesak, tangisku membuncah, aku tak mampu membayangkan jika itu adalah anak perempuanku. Ku dekap erat dan elus kepalanya sambil meyakinkannya bahwa ibunya insya Allah selamat, kuajak berdoa. Dia nurut, suara tangisnya kemudian terhenti.

Goyangan gempa masih berlanjut, suasana mulai gelap mencekam, hanya terdengar teriakan ibu-ibu dan tangisan yang sahut menyahut yang membuatku panik, sempat kumarahi mereka agar tidak menangis, lebih baik berdoa saja ujarku sambil mengajak para laki-laki disana untuk berdzikir. Tangis dan teriakan tak akan mungkin meredakan alam yang lagi marah. Mereka nurut, ikut berzikir dan berdoa dengan keyakinan masing-masing. Sambil masih menangis, aku lalu mencoba azan dengan suara yang begitu lirih, hampir tak mampu bersuara lantang. Ya Allah, betapa agungnya kalimat-kalimat Mu, belum selesai kubaca iqomah, gempa pun berhenti. Allahu akbar.

Suasana masih mencekam, kami belum berani turun, khawatir ada tsunami susulan lagi. Beberapa orang lalu terlihat melintas diantara genangan air mencari keluarganya, bermodalkan senter dari hape yang tersisa. Gadis kecil yang masih memelukku itu tiba-tiba teriak, "ibuuuuu". Ternyata ibunya memanggil namanya dibawah depan, di sebuah antena parabola yang dijadikan tempat berlindung dari Tsunami. Nurani seorang ibu begitu besar, entah bagaimana caranya dia turun dari parabola yang kulihat lumayan tinggi itu. Menyusuri genangan air dengan berbagai material didalamnya, sang ibu pun sampai di tangga tempatku berada. Mereka pelukan, menangis, betapa bahagianya kulihat mereka bertemu. Alhamdulillah ya Allah, lagi-lagi Engkau mengingatkanku tentang betapa berharganya keluarga, tak tertandingi dan tak terbayarkan oleh berapapun besarnya nilai mata uang di dunia.

"Terima kasih pak" ujarnya menyalamiku, aku mengangguk kecil dan tersenyum getir. Betapa tidak, aku saat itu benar-benar merasa sendiri, timku yang berjumlah 7 orang itu entah kemana. Kucoba keluarkan hape kecil yang ternyata masih selamat di dalam tasku, tapi mati terendam air. Kukeluarkan satunya lagi, nasibnya sama : mati. Ah, nanti saja ku infokan istri dan keluargaku, ujarku dalam hati.

Sambil bergegas turun kuajak mereka mencari jalur evakuasi dan menjauhi pantai. Semua turun, kami berjalan bersama-sama meraba-raba pijakan yang tak mulus. Material bangunan dan rongsokan rongsokan barang yang hanyut membuat langkah kami begitu terasa pendek. Alhamdulillah kami pun tiba di area belakang gedung, berupa tanah datar atau mungkin lapangan, aku pikir itu adalah lapangan TVRI tempat kami parkir sebelumnya, tapi tidak kulihat satupun mobil mobil yang parkir itu, entah sudah melarikan diri, atau tidak terlihat karena gelap atau mungkin hanyut.

Menginjakkan kaki ditanah yang kering serasa menginjakkan kaki di surga. Kami berlarian menuju arah yang ditunjuk oleh seorang TNI yang membantu mengevakuasi kami. "Kumpul di masjid" teriaknya, kami pun berlari dengan sisa sisa tenaga yang ada. Baru sampai di gang kecil yang kiri kanannya rumah-rumah biasa, tiba tiba bumi menunjukkan amarahnya lagi, kami sempoyongan, sambil berlari sambil berzikir. Satu-satunya yang ada dipikiranku adalah secepat mungkin menjauhi pantai. Saat tiba di masjid, tanah sekelilingnya kering, berarti air tsunami tidak sampai disini pikirku. Kulihat orang menumpuk diri di jalanan, tapi aku putuskan untuk terus berjalan menuju arah kota, meninggalkan pantai sejauh-jauhnya. Beberapa orang yang dipinggir jalan seperti terheran-heran melihatku basah kuyup, aku katakan bahwa aku terkena tsunami, juga orang-orang dibelakangku, mereka lalu panik, menghidupkan motor dan juga berlarian mengikuti kami. Ternyata, sebagian dari mereka tidak sadar ada tsunami yang memporakporandakan pesisir pantai Palu.

Aku dan beberapa warga terus berlarian, menuju arah kota. Dari lampu merah yg pertama kutemui, kami belok kanan lalu diarahkan untuk mengamankan diri di Korem kota Palu. Saat tiba disana, suasana belum terlalu ramai, masih seperempat dari luas halaman Korem. Bapak bapak TNI junior dengan sigap mengarahkan pengungsi, membagikan air galon yg tersisa di kantor depannya. Aku rebahkan badan dengan kondisi pakaian yang tak layak pakai lagi. Baju wonderful indonesia berwarna ungu itu tak lagi wonderful, beberapa bagian di depan dan belakangnya terkoyak, entah nyangkut di besi pagar pembatas atau material lain.

TNI muda itu melintas didepanku membawa beberapa helai koran bekas sebagai alas pengungsi yang terluka. Kusapa dan kutanya baju-baju bekas yang barangkali ia punya.

"Maaf pak tidak ada baju bekas, baju yg saya pakai mau kah?" ujarnya.

Ku iyakan dan ia langsung membuka baju loreng kebanggaan yg dipakainya. Sempat ragu ragu karena kulihat dia bertelanjang dada, tapi kupikir dia mungkin punya baju cadangan. Dengan berat hati kulempar baju wonderful yang terkoyak itu ke tempat sampah dan kuganti dengan kaos loreng TNI pemberiannya, terasa hangat dan lebih baik walaupun sedikit bau keringat. Tak lupa kuucapkan terima kasih saat TNI muda itu berlalu. Kulanjutkan berbaring sambil mengingat ingat kejadian yg baru saja menimpaku, kembali ku menangis tersedu-sedu melihat beberapa anak-anak yang lalu lalang menangis memanggil-manggil ibu dan bapaknya. Entah dimana mereka terpisah, entah bagaimana juga cara mereka menyelamatkan diri. Halaman Korem itu mulai ramai, banyak yang terluka, seorang ibu hamil besar kakinya remuk tertimpa bangunan, tangannya patah, dan kandungannya berkontraksi, si jabang bayi sepertinya ingin cepat cepat keluar, menghibur ibundanya yang sedang dirundung duka.

Seorang gadis bongsor berlarian mencari korban-korban yang terluka. Bermodal obat merah dan sebotol air dihampirinya setiap korban yang datang di halaman itu, disirami air lalu diberi obat merah seadanya. Tidak kulihat tim medis yang memang ahlinya malam itu, bahkan sampai pagi. Mungkin fokus menangani korban-korban gempa dan tsunami di RSUD Kota Palu. Sempat kulihat-lihat luka yang ada dibadanku, tapi kupikir tidak lebih parah dari mereka yang berduyun duyun dibawa oleh kerabatnya.

Seorang laki laki paruh baya dengan luka tangan yang parah sepertinya tidak peduli pada lukanya. Dia terus memanggil lirih nama anak dan istrinya. Aku terhenyak, sesak, dadaku membuncah. Ku hampiri lalu kutanya kisahnya. Dia bercerita anak istrinya sempat naik di boncengan motornya, ia melarikan motornya sekencang-kencangnya, melaju dan berlomba-lomba dengan kecepatan air tsunami di Anjungan Nusantara. Ia baru sadar istri dan anaknya sudah tidak bersamanya di atas motor sesaat setelah selamat dari kejaran air. Akupun menawarkan diri ikut dengannya ke titik titik pengungsian mencari istri dan anaknya, sambil berharap bahwa aku bisa bertemu minimal satu dua orang timku yang mungkin selamat. Setiap titik kumpul kami berhenti, yang kami cari tak kunjung ketemu. Diputuskannya untuk terus mencari ke Anjungan Nusantara, kularang tapi dia tetap bersikeras.

Dengan berdebar-debar, akhirnya aku kembali ikut dengannya, memboncengnya melalui gang-gang yang ramai dengan kepanikan karena gempa susulan terus menerus terjadi. Sepanjang 1 KM teluk Talise yang kami lalui hanya terlihat pemandangan yg memilukan. mayat bergelimpangan. Ada yang berkelompok dan juga banyak yang sendiri sendiri. Mayoritas korban yang aku lihat adalah perempuan paruh baya. Beberapa mayat itu disenternya, dibalik badannya, mungkin tetap berharap bertemu, dalam kondisi sudah tak bernyawa sekalipun.

Ya rabb, kematian itu terasa begitu dekat denganku. Begitu dahsyatnya kekuatanmu ya Allah, kami sungguh tidak ada apa-apanya. Tiba tiba kepalaku pusing, aku sempoyongan, hampir saja motor vario yang kami tumpangi jatuh. Dengan tidak enak hati kuajak kembali bapak itu ke Korem menunggu kabar tentang istri dan anaknya.

Kami tiba di Korem saat orang sholat isya, aku bergegas tayamum dan bergabung sholat. Ayat yang dibaca seorang imam tua itu begitu mengharukan, aku tidak mengerti artinya secara detail, tapi yang kufahami, ayat yang dibacanya adalah tentang hari kiamat.  Saat itu aku kembali sadar, mungkin semua manusia dan mahluk hidup di dunia, saat dihadapkan antara hidup dan mati, yang teringat hanya dosa dan pertanggung jawaban di akhirat kelak. Aku menangis dalam rakaatku, betapa banyak dosaku, betapa aku belum cukup bekal jika hendak kembali kepada-Nya. Setelah sholat isya, aku kembali mengamati suasana sekitar, orang orang lalu lalang mencari kerabat, korban - korban selamat yang bolak balik diangkut mobil TNI, juga para pengungsi yang semakin menumpuk. Kucari sekeliling para pengungsi yang menggunakan handphone, kuperhatikan satu persatu, barangkali ada yang kemudian bisa kupinjam handphone-nya untuk sekedar menelpon keluarga dirumah.

Hampir 30 menit mencari handphone yang ada signalnya, nihil. Hanya Pro XL yang masih bertahan waktu itu. Dari sekian orang yang kucoba pinjam handphone-nya, tak ada satupun yang bersinyal XL. Suasana kembali mencekam, listrik masih mati, gempa susulan terus terjadi dengan jarak yang mungkin tak lebih dari 15 menit. Tiba-tiba kulihat seorang TNI muda dibelakangku menerima telpon, langsung kudekati. Saat dia selesai berbicara, langsung kusapa dan meminta bantuannya untuk meminjamiku handphone. Yang kuhafal cuma nomor handphone istriku, 2x tidak tersambung, akhirnya ke-3x nya langsung berdering dan diangkat.

"Assalamu'alaikum", suara istriku diseberang sana.

"Wa'aaikum salam, bunda. Ini ayah, alhamdulillah ayah selamat, sekarang posisi di Korem kota Palu mengamankan diri. Ayah sempat digulung tsunami, tapi selamat, tidak perlu khawatir, nanti ayah telpon lagi kalau sudah ada waktu. Minta doanya selalu,..." kumatikan telpon itu tanpa memberinya kesempatan bicara. Aku takut sedih, aku tidak ingin mendengarnya menangis, yang penting dia tau aku selamat, sudah lebih dari cukup.

Malam serasa begitu panjang. Suasana yang dingin, tanpa selimut, tanpa makanan, hanya ada air minum tersisa 2 galon untuk puluhan atau mungkin lebih ratusan orang pengungsi malam itu di Korem. Gempa susulan yang terus menerus terjadi, ditambah ketakutan warga palu tentang danau Lindu diatas gunung yang bisa saja jebol karena gempa, membuat kami tak kuasa memejamkan mata. Konon diatas gunung jauh disana, di sebuah taman nasional yang bernama Taman Nasional Lindu, ada sebuah danau besar, yang jika tanggulnya jebol, airnya mampu merendam kota Palu yang berada dibawahnya. Aku sudah tidak perduli, aku begitu yakin Allah masih menyayangiku, pikirku, jika memang Palu adalah akhir hayatku, mungkin aku sudah mati saat digulung Tsunami petang tadi.

Beberapa pengungsi sempat mengajakku ngobrol, menanyakan asal usul dan juga cerita tentang gempa Lombok setelah mereka tau aku dari Lombok. mata mengantuk, tapi tak bisa terpejam, semacam orang insomnia. Gelisah, resah, berharap malam segera berlalu dan pagi segera menjelang. Sempat terlelap karena lelah, namun udara yang dingin membuatku terusik, juga gempa yang bergetar kecil. Malam itu aku terasa begitu dekat dengan Tuhanku, aku mencoba berdialog lirih, memohon ampun sambil menangis sejadi-jadinya...

Bersambung ke Part III | Baca Part I Disini

I consider myself a professional blogger because I treat it with hard work, dedication, and a vision. Because I earn a little money from it and because I have been able to build marketable skills as a result of it. Get in touch with me via Google+ or Facebook.

1 comments

Mksh banyak ats fotonya pria yg baju merah itu adalah sy dan alhamdullila sy selamat dr tsunami..


EmoticonEmoticon