Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 3


Sayup kudengar suara adzan subuh di bawah tiang bendera korem itu, disamping sang muadzin kulihat beberapa laki-laki sudah berderet rapi siap untuk sholat. Aku terbangun, tiba tiba pelupuk mataku basah, ternyata aku masih bisa menghirup udara pagi ini.

Aku segera bergegas ke toilet di kantor depan korem kota Palu, hendak berwudhu. Antrian yang panjang membuatku terpaksa meninggalkan sholat berjamaah dan kemudian sholat sendiri bersajadahkan koran. Doaku pagi itu begitu panjang, khusuk. "Oh ternyata begini nikmatnya berdialog dengan tuhan," gumamku dalam hati. Selesai berdoa kucoba lanjutkan berbaring, menghilangkan letih di badan sekalian mengusir rasa lapar dan dahaga yang kutahan sejak semalam. Cuaca yang dingin membuatku tidak bisa memejamkan mata. Sinar matahari perlahan mulai menguak gelap, menggantinya dengan terang. Aku kemudian bangun, melihat lihat situasi orang-orang lalu lalang di jalan raya dan juga orang-orang yang berdatangan mencari keluarganya.

Seorang bapak-bapak yang semalam tidur bersama keluarganya di dekatku datang membawa 2 galon air mineral dan menawarkan semua pengungsi untuk minum, khawatir tidak kebagian, kubantu dia menurunkan galon itu dan membukanya. Kutampung segelas dan kuminum

ON PROSESS







1 komentar


EmoticonEmoticon