Selasa, 06 November 2018

Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 3


Sayup kudengar suara adzan subuh di bawah tiang bendera korem itu, disamping sang muadzin kulihat beberapa laki-laki sudah berderet rapi siap untuk sholat. Aku terbangun, tiba tiba pelupuk mataku basah, ternyata aku masih bisa menghirup udara pagi ini.

Aku segera bergegas ke toilet di kantor depan korem kota Palu, hendak berwudhu. Antrian yang panjang membuatku terpaksa meninggalkan sholat berjamaah dan kemudian sholat sendiri bersajadahkan koran. Doaku pagi itu begitu panjang, khusuk. "Oh ternyata begini nikmatnya berdialog dengan tuhan," gumamku dalam hati. Selesai berdoa kucoba lanjutkan berbaring, menghilangkan letih di badan sekalian mengusir rasa lapar dan dahaga yang kutahan sejak semalam. Cuaca yang dingin membuatku tidak bisa memejamkan mata. Sinar matahari perlahan mulai menguak gelap, menggantinya dengan terang. Aku kemudian bangun, melihat lihat situasi orang-orang lalu lalang di jalan raya dan juga orang-orang yang berdatangan mencari keluarganya.

Seorang bapak-bapak yang semalam tidur bersama keluarganya di dekatku datang membawa 2 galon air mineral dan menawarkan semua pengungsi untuk minum, khawatir tidak kebagian, kubantu dia menurunkan galon itu dan membukanya. Kutampung segelas dan kuminum

ON PROSESS







Rabu, 24 Oktober 2018

Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 2

Gempa bumi dan tsunami menerjang, Palu pun berguncang. Bumi terbelah, air bergemuruh tumpah ruah. Yang paling membuat iba, anak-anak menangis mencari orang tuanya, ayah memanggil lirih anak istrinya. Dzikir yang bersahut-sahutan menghiasi gendang-gendang telinga petang magrib waktu itu...

Sekitar Pukul 17.45 kami tiba di lokasi Festival Nomoni III yang dipusatkan Sepanjang Pesisir Teluk Palu (dimulai dari ujung Hotel Wina Pantai sampai ujung menuju belokan menuju Swiss Bell Hotel). Hampir di sepanjang teluk masyarakat tumpah ruah, selain menikmati matahari terbenam, juga  tidak ingin ketinggalan moment pembukaan Festival dalam rangka perayaan ulang tahun kota mereka, Kota Palu.

Tim liputan CoE (Calendar of Event) yg tugas saat itu berangkat dengan 3 mobil dan membagi diri, aku bertiga (Frea, Papisher, dan aku sendiri) lebih memilih mengunjungi rumah adat Kaili dengan pameran benda-benda pusakanya. Rumah adat ini persis berada di anjungan ujung kanan jembatan kuning dengan view yg tertata rapi. Di depannya view pantai Talise yg luar biasa indah. Nuansa pepohonan yg rimbun membuat lokasi ini menjadi kelihatan paling spesial diantara lokasi/venue acara lainnya.

Aku keluarkan kamera, memasukkan handphone sambil mencolokkannya di powerbank, lalu memotret sekeliling dengan terkagum kagum. Karena belum ketemu model foto yg bagus, sempat kusuruh Papishare dan Frea berjalan di depanku sebagai model. Beberapa ibu muda dengan anak-anaknya sempat mengganggu pandanganku dari mereka berdua karena minta di foto. Lalu dengan seadanya kufoto mereka dengan ekspresi senang, mungkin mereka menganggapku wartawan media besar.










Keterangan foto : suasana rumah adat Kaili yang terletak di anjungan ujung kanan bawah jambatan Kuning kota Palu.

Di seberang jalan terdengar azan magrib bergema, karena belum kelar motret, ku urungkan niat beranjak. Setelah beberapa menit, suara iqomah memanggil dan aku segera bergegas. Baru saja kaki menginjak jalan aspal ujung kanan jembatan hendak menyeberang, tiba tiba getaran maha dahsyat itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Goyangan gempa 7.4 SR dibarengi suara dentuman membuat semua orang panik. Warga Palu yang biasanya anteng-anteng saja dengan gempa, saat itu terlihat ketakutan, mungkin melebihi ketakutanku selama 1 bulan dilanda gempa di Lombok. Jalan aspal di terbelah, ada yg kemudian tersungkur, tak sangggup berdiri karena digoyang gempa yg begitu lama dan besar. Kupikir, gempa ini adalah gempa terlama yang pernah aku rasakan, beberapa bagian jalan aspal di beberapa sisi amblas dan retakan sepanjang jalan.

1 menit gempa belum berhenti total, orang-orang di sekeliling kemudian berlarian ke arah menjauhi laut. Sempat bengong, ada apa gerangan. Namun ketika mendengar orang orang kemudian berteriak sahut menyahut tentang air laut yang naik, kepalaku tiba-tiba pusing, aku gemetaran, kucoba berdiri namun lutut serasa tak mampu menyangga berat badanku. Kubaca bismillah dan beristigfar berkali kali sambil mencoba bangkit, kemudian ikut berlarian ke sembarang arah sambil melihat lokasi yang lebih tinggi. 5 meter di depanku kulihat Papisher dan Frea berlarian ke arah kiri gedung, yang ku ingat disebelah kiri gedung Polda/Samsat yang kutuju ada jalan raya dan lapangan TVRI. Logikaku sempat bermain, jika aku ikuti mereka, kemungkinan tidak ada tempat tinggi sebagai tujuan dan tsunami akan menghabisi kami. Kupanggil mereka sambil berlari, namun teriakan kepanikan orang orang yang berlarian tak mungkin bisa dikalahkan oleh suaraku yang tiba-tiba parau.

Suasana panik saat air laut mulai naik

Aku bergidik, didepanku tanah-tanah lapang halaman gedung Polda yg ku injak itu tiba-tiba meledak, mengeluarkan semburan lumpur hitam yang entah pipa pembuangan air saluran kamar mandi gedung yang pecah atau memang murni air lumpur yang berasal dari dalam bumi. Ada juga pemandangan anak-anak kecil yang mencoba menaiki pohon pohon kecil yang sudah pasti tidak akan mampu menampung berat badannya yang lebih besar, ada yang tabrakan sesama pelari, bahkan seorang gadis cantik yang berhijab besar itu tiba-tiba tersungkur di depanku karena tersandung sesuatu lalu kemudian menjadi pijakan pelari lain. Hampir saja aku ikut menginjaknya, ingin kutolong untuk sekedar bangun dan ikut berlari, namun suara deru air tsunami sudah terdengar menggelegar begitu dekat di belakang.

Kondisi sepatu yang menjadi licin dan berat karena terkena semburan air lumpur membuatku tidak leluasa. Sambil berlarian sambil kubuka yang sebelah kiri, yang kanan terasa begitu lama terbuka, waktu sudah hampir habis, air sudah melewati jalan raya menuju gedung. Setelah terbuka, aku kemudian mengerahkan tenaga, mencoba berlari sekencang-kencangnya dengan sisa tenaga dan nafas yg ngos-ngosan mengejar teriakan orang-orang yg sudah lebih dulu berada di lantai II gedung itu. Aku sempat menengok ke belakang, ingin memantau pergerakan air, ternyata air tsunami yg setinggi kurang lebih 2-3 meter itu sudah berjarak hanya 5 meter di belakangku. Aku pasrah, tak cukup waktu lagi untuk mengejar tangga menuju lantai II, tak mungkin lagi mencari tempat untuk bersembunyi. Aku tak ada lagi harapan hidup, mungkin inilah saatnya. Sesaat teringat kembali semua salah dan dosa yang pernah kuperbuat, terbayang orang-orang tersayang yang mungkin pernah kuzolimi tanpa kusadari.

Sambil menangis aku memanggil nama-Nya yang Maha Besar, Allahuakbar.... belum selesai lidahku melafalkan kalimat maha agung itu, gelombang setinggi 3 meter sudah menyapu, menerjang, menghantam dan menyeret tubuhku yg tak berdaya kemanapun maunya. Deras, keras, membawa hanyut apa saja yang dilaluinya. Bahkan untuk sekedar mempertahankan posisi bertekuk lutut saja tidak lagi bisa.

Kalimat syahadat tak mampu lagi terucap, hanya sanggup terbaca lirih dihati karena masih dalam pusaran air, terseret, terlempar. Asyhadu a-llaa Ilaaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah. Hantaman demi hantaman material yang terbawa hanyut membuat dada semakin sesak, aku menahan nafas sambil menahan sakit. Istighfar dan syahadat tak putus dalam angan, berharap jika memang malaikat maut menjemput, mulut dan hati semoga masih dalam ingatan tentang-Nya. 

Sambil terus tergulung dalam air bah yang maha dahsyat itu, kucoba melepas tas yang berisi lensa dan kamera yang hanya masuk setengah (body) nya saja, namun talinya yang bergantungan berlawanan arah dan membentuk X di dadaku, membuatku kesulitan. Tas itu tiba-tiba terasa begitu menyebalkan, begitu berat dan membebaniku. Ya sudah, kudiamkan saja bergelantungan di badanku, aku lebih mencoba fokus menahan nafas sambil terus berzikir. Lebih satu menit paru-paruku ternyata tak cukup kuat bertahan untuk tidak bernafas lebih lama lagi, akhirnya air laut bercampur lumpur dan material beraneka ragam itupun masuk memenuhi tenggorokan. Aku tersedak, tiba tiba kepalaku pusing, sakit sekali. Tubuhku melemah, pasrah.

Tiba tiba sesuatu menabrakku dari belakang begitu keras dan membuat aku terhempas, tergeret ke sebuah tembok. Ini adalah titik balik dari semua proses yang cukup lama itu, aku terhempas dengan posisi berdiri menghadap tembok yang kemudian kutau tembok itu adalah tembok tangga menuju lantai II di gedung yang sebelumnya kutuju. Air tsunami sudah mulai surut, hanya sedada atau entah hanya sampai pinggang, aku lupa. Aku lebih fokus mendengar teriakan diatasku yang memintaku untuk naik, ku ulurkan tangan dan meminta bantuan, 3 orang laki-laki yang maha baik itu kemudian menarikku. Alhamdulillah, aku menangis, sejadi jadinya, tersungkur kemudian bersujud syukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh sang pemilik kehidupan.

Belum tegak badanku bangun dari sujud syukur, bumi bergoyang lagi, keras, seperti sedang di ayunan. Sambil muntah karena mual, aku berlari menuruni tangga, tak ku ingat dibawah ada air tsunami yang kapan saja bisa menghanyutkanku lagi. Sampai di anak tangga terbawah, ternyata kakiku terkena genangan air. Hati dilema, mau turun takut tsunami datang lagi, mau terus naik takut tertimpa reruntuhan. Sungguh tidak ada pilihan yang paling nyaman selain berdiam diri di ujung bawah tangga, kaki berendam setengah di genangan air sisa tsunami sambil melihat-lihat ke atas mengawasi kemungkinan bangunan runtuh.

Tiba tiba dari arah depanku seorang anak perempuan yang seumuran anakku ( 8-9 tahun) meraih tanganku dari samping tangga memohon bantuan, kakinya terendam genangan air dan dia tidak bisa keluar karena sesuatu menahan kakinya di dalam air. Kondisi bajunya basah kuyup, mungkin anak ini juga adalah orang-orang terpilih dan beruntung sepertiku, sempat tergulung tsunami dan masih diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Aku menangis, tiba-tiba saja kuingat Claura, anakku disana, kuberanikan diri turun ke genangan air, ku singkirkan material-material yang menghambatnya naik ke tangga. Setelah diatas tangga anak itu kemudian menangis, memelukku, erat, tak ingin lepas. Dia mencari ibunya, dadaku sesak, tangisku membuncah, aku tak mampu membayangkan jika itu adalah anak perempuanku. Ku dekap erat dan elus kepalanya sambil meyakinkannya bahwa ibunya insya Allah selamat, kuajak berdoa. Dia nurut, suara tangisnya kemudian terhenti.

Goyangan gempa masih berlanjut, suasana mulai gelap mencekam, hanya terdengar teriakan ibu-ibu dan tangisan yang sahut menyahut yang membuatku panik, sempat kumarahi mereka agar tidak menangis, lebih baik berdoa saja ujarku sambil mengajak para laki-laki disana untuk berdzikir. Tangis dan teriakan tak akan mungkin meredakan alam yang lagi marah. Mereka nurut, ikut berzikir dan berdoa dengan keyakinan masing-masing. Sambil masih menangis, aku lalu mencoba azan dengan suara yang begitu lirih, hampir tak mampu bersuara lantang. Ya Allah, betapa agungnya kalimat-kalimat Mu, belum selesai kubaca iqomah, gempa pun berhenti. Allahu akbar.

Suasana masih mencekam, kami belum berani turun, khawatir ada tsunami susulan lagi. Beberapa orang lalu terlihat melintas diantara genangan air mencari keluarganya, bermodalkan senter dari hape yang tersisa. Gadis kecil yang masih memelukku itu tiba-tiba teriak, "ibuuuuu". Ternyata ibunya memanggil namanya dibawah depan, di sebuah antena parabola yang dijadikan tempat berlindung dari Tsunami. Nurani seorang ibu begitu besar, entah bagaimana caranya dia turun dari parabola yang kulihat lumayan tinggi itu. Menyusuri genangan air dengan berbagai material didalamnya, sang ibu pun sampai di tangga tempatku berada. Mereka pelukan, menangis, betapa bahagianya kulihat mereka bertemu. Alhamdulillah ya Allah, lagi-lagi Engkau mengingatkanku tentang betapa berharganya keluarga, tak tertandingi dan tak terbayarkan oleh berapapun besarnya nilai mata uang di dunia.

"Terima kasih pak" ujarnya menyalamiku, aku mengangguk kecil dan tersenyum getir. Betapa tidak, aku saat itu benar-benar merasa sendiri, timku yang berjumlah 7 orang itu entah kemana. Kucoba keluarkan hape kecil yang ternyata masih selamat di dalam tasku, tapi mati terendam air. Kukeluarkan satunya lagi, nasibnya sama : mati. Ah, nanti saja ku infokan istri dan keluargaku, ujarku dalam hati.

Sambil bergegas turun kuajak mereka mencari jalur evakuasi dan menjauhi pantai. Semua turun, kami berjalan bersama-sama meraba-raba pijakan yang tak mulus. Material bangunan dan rongsokan rongsokan barang yang hanyut membuat langkah kami begitu terasa pendek. Alhamdulillah kami pun tiba di area belakang gedung, berupa tanah datar atau mungkin lapangan, aku pikir itu adalah lapangan TVRI tempat kami parkir sebelumnya, tapi tidak kulihat satupun mobil mobil yang parkir itu, entah sudah melarikan diri, atau tidak terlihat karena gelap atau mungkin hanyut.

Menginjakkan kaki ditanah yang kering serasa menginjakkan kaki di surga. Kami berlarian menuju arah yang ditunjuk oleh seorang TNI yang membantu mengevakuasi kami. "Kumpul di masjid" teriaknya, kami pun berlari dengan sisa sisa tenaga yang ada. Baru sampai di gang kecil yang kiri kanannya rumah-rumah biasa, tiba tiba bumi menunjukkan amarahnya lagi, kami sempoyongan, sambil berlari sambil berzikir. Satu-satunya yang ada dipikiranku adalah secepat mungkin menjauhi pantai. Saat tiba di masjid, tanah sekelilingnya kering, berarti air tsunami tidak sampai disini pikirku. Kulihat orang menumpuk diri di jalanan, tapi aku putuskan untuk terus berjalan menuju arah kota, meninggalkan pantai sejauh-jauhnya. Beberapa orang yang dipinggir jalan seperti terheran-heran melihatku basah kuyup, aku katakan bahwa aku terkena tsunami, juga orang-orang dibelakangku, mereka lalu panik, menghidupkan motor dan juga berlarian mengikuti kami. Ternyata, sebagian dari mereka tidak sadar ada tsunami yang memporakporandakan pesisir pantai Palu.

Aku dan beberapa warga terus berlarian, menuju arah kota. Dari lampu merah yg pertama kutemui, kami belok kanan lalu diarahkan untuk mengamankan diri di Korem kota Palu. Saat tiba disana, suasana belum terlalu ramai, masih seperempat dari luas halaman Korem. Bapak bapak TNI junior dengan sigap mengarahkan pengungsi, membagikan air galon yg tersisa di kantor depannya. Aku rebahkan badan dengan kondisi pakaian yang tak layak pakai lagi. Baju wonderful indonesia berwarna ungu itu tak lagi wonderful, beberapa bagian di depan dan belakangnya terkoyak, entah nyangkut di besi pagar pembatas atau material lain.

TNI muda itu melintas didepanku membawa beberapa helai koran bekas sebagai alas pengungsi yang terluka. Kusapa dan kutanya baju-baju bekas yang barangkali ia punya.

"Maaf pak tidak ada baju bekas, baju yg saya pakai mau kah?" ujarnya.

Ku iyakan dan ia langsung membuka baju loreng kebanggaan yg dipakainya. Sempat ragu ragu karena kulihat dia bertelanjang dada, tapi kupikir dia mungkin punya baju cadangan. Dengan berat hati kulempar baju wonderful yang terkoyak itu ke tempat sampah dan kuganti dengan kaos loreng TNI pemberiannya, terasa hangat dan lebih baik walaupun sedikit bau keringat. Tak lupa kuucapkan terima kasih saat TNI muda itu berlalu. Kulanjutkan berbaring sambil mengingat ingat kejadian yg baru saja menimpaku, kembali ku menangis tersedu-sedu melihat beberapa anak-anak yang lalu lalang menangis memanggil-manggil ibu dan bapaknya. Entah dimana mereka terpisah, entah bagaimana juga cara mereka menyelamatkan diri. Halaman Korem itu mulai ramai, banyak yang terluka, seorang ibu hamil besar kakinya remuk tertimpa bangunan, tangannya patah, dan kandungannya berkontraksi, si jabang bayi sepertinya ingin cepat cepat keluar, menghibur ibundanya yang sedang dirundung duka.

Seorang gadis bongsor berlarian mencari korban-korban yang terluka. Bermodal obat merah dan sebotol air dihampirinya setiap korban yang datang di halaman itu, disirami air lalu diberi obat merah seadanya. Tidak kulihat tim medis yang memang ahlinya malam itu, bahkan sampai pagi. Mungkin fokus menangani korban-korban gempa dan tsunami di RSUD Kota Palu. Sempat kulihat-lihat luka yang ada dibadanku, tapi kupikir tidak lebih parah dari mereka yang berduyun duyun dibawa oleh kerabatnya.

Seorang laki laki paruh baya dengan luka tangan yang parah sepertinya tidak peduli pada lukanya. Dia terus memanggil lirih nama anak dan istrinya. Aku terhenyak, sesak, dadaku membuncah. Ku hampiri lalu kutanya kisahnya. Dia bercerita anak istrinya sempat naik di boncengan motornya, ia melarikan motornya sekencang-kencangnya, melaju dan berlomba-lomba dengan kecepatan air tsunami di Anjungan Nusantara. Ia baru sadar istri dan anaknya sudah tidak bersamanya di atas motor sesaat setelah selamat dari kejaran air. Akupun menawarkan diri ikut dengannya ke titik titik pengungsian mencari istri dan anaknya, sambil berharap bahwa aku bisa bertemu minimal satu dua orang timku yang mungkin selamat. Setiap titik kumpul kami berhenti, yang kami cari tak kunjung ketemu. Diputuskannya untuk terus mencari ke Anjungan Nusantara, kularang tapi dia tetap bersikeras.

Dengan berdebar-debar, akhirnya aku kembali ikut dengannya, memboncengnya melalui gang-gang yang ramai dengan kepanikan karena gempa susulan terus menerus terjadi. Sepanjang 1 KM teluk Talise yang kami lalui hanya terlihat pemandangan yg memilukan. mayat bergelimpangan. Ada yang berkelompok dan juga banyak yang sendiri sendiri. Mayoritas korban yang aku lihat adalah perempuan paruh baya. Beberapa mayat itu disenternya, dibalik badannya, mungkin tetap berharap bertemu, dalam kondisi sudah tak bernyawa sekalipun.

Ya rabb, kematian itu terasa begitu dekat denganku. Begitu dahsyatnya kekuatanmu ya Allah, kami sungguh tidak ada apa-apanya. Tiba tiba kepalaku pusing, aku sempoyongan, hampir saja motor vario yang kami tumpangi jatuh. Dengan tidak enak hati kuajak kembali bapak itu ke Korem menunggu kabar tentang istri dan anaknya.

Kami tiba di Korem saat orang sholat isya, aku bergegas tayamum dan bergabung sholat. Ayat yang dibaca seorang imam tua itu begitu mengharukan, aku tidak mengerti artinya secara detail, tapi yang kufahami, ayat yang dibacanya adalah tentang hari kiamat.  Saat itu aku kembali sadar, mungkin semua manusia dan mahluk hidup di dunia, saat dihadapkan antara hidup dan mati, yang teringat hanya dosa dan pertanggung jawaban di akhirat kelak. Aku menangis dalam rakaatku, betapa banyak dosaku, betapa aku belum cukup bekal jika hendak kembali kepada-Nya. Setelah sholat isya, aku kembali mengamati suasana sekitar, orang orang lalu lalang mencari kerabat, korban - korban selamat yang bolak balik diangkut mobil TNI, juga para pengungsi yang semakin menumpuk. Kucari sekeliling para pengungsi yang menggunakan handphone, kuperhatikan satu persatu, barangkali ada yang kemudian bisa kupinjam handphone-nya untuk sekedar menelpon keluarga dirumah.

Hampir 30 menit mencari handphone yang ada signalnya, nihil. Hanya Pro XL yang masih bertahan waktu itu. Dari sekian orang yang kucoba pinjam handphone-nya, tak ada satupun yang bersinyal XL. Suasana kembali mencekam, listrik masih mati, gempa susulan terus terjadi dengan jarak yang mungkin tak lebih dari 15 menit. Tiba-tiba kulihat seorang TNI muda dibelakangku menerima telpon, langsung kudekati. Saat dia selesai berbicara, langsung kusapa dan meminta bantuannya untuk meminjamiku handphone. Yang kuhafal cuma nomor handphone istriku, 2x tidak tersambung, akhirnya ke-3x nya langsung berdering dan diangkat.

"Assalamu'alaikum", suara istriku diseberang sana.

"Wa'aaikum salam, bunda. Ini ayah, alhamdulillah ayah selamat, sekarang posisi di Korem kota Palu mengamankan diri. Ayah sempat digulung tsunami, tapi selamat, tidak perlu khawatir, nanti ayah telpon lagi kalau sudah ada waktu. Minta doanya selalu,..." kumatikan telpon itu tanpa memberinya kesempatan bicara. Aku takut sedih, aku tidak ingin mendengarnya menangis, yang penting dia tau aku selamat, sudah lebih dari cukup.

Malam serasa begitu panjang. Suasana yang dingin, tanpa selimut, tanpa makanan, hanya ada air minum tersisa 2 galon untuk puluhan atau mungkin lebih ratusan orang pengungsi malam itu di Korem. Gempa susulan yang terus menerus terjadi, ditambah ketakutan warga palu tentang danau Lindu diatas gunung yang bisa saja jebol karena gempa, membuat kami tak kuasa memejamkan mata. Konon diatas gunung jauh disana, di sebuah taman nasional yang bernama Taman Nasional Lindu, ada sebuah danau besar, yang jika tanggulnya jebol, airnya mampu merendam kota Palu yang berada dibawahnya. Aku sudah tidak perduli, aku begitu yakin Allah masih menyayangiku, pikirku, jika memang Palu adalah akhir hayatku, mungkin aku sudah mati saat digulung Tsunami petang tadi.

Beberapa pengungsi sempat mengajakku ngobrol, menanyakan asal usul dan juga cerita tentang gempa Lombok setelah mereka tau aku dari Lombok. mata mengantuk, tapi tak bisa terpejam, semacam orang insomnia. Gelisah, resah, berharap malam segera berlalu dan pagi segera menjelang. Sempat terlelap karena lelah, namun udara yang dingin membuatku terusik, juga gempa yang bergetar kecil. Malam itu aku terasa begitu dekat dengan Tuhanku, aku mencoba berdialog lirih, memohon ampun sambil menangis sejadi-jadinya...

Bersambung ke Part III | Baca Part I Disini

Kamis, 04 Oktober 2018

Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 1

Jembatan Kuning Kota Palu

Lombok, 27 September 2018 - Keberangkatanku ke Palu bukanlah sebuah perjalanan yang direncanakan. Bagiku, dipercaya sebagai korlap (Koordinator Lapangan) menggantikan seorang senior di Genpi Nasional juga bukanlah perkara mudah. Mengatur tim liputan agar sesuai dengan tupoksi dan juga mencapai target tentunya butuh ilmu tambahan selain ilmu jepret-menjepret. Ya, jika biasanya aku bertugas keluar daerah sebagai tukang foto, kali ini adalah kali pertama ditunjuk sebagai korlap atau memimpin tim liputan yang terdiri dari fotografer, videografer, drafter, blogger, youtuber, juga beberapa tim media Kementrian Pariwisata. Sebuah amanah yang sepertinya menyenangkan, tapi juga bikin jantung berdebar-debar.

Pesona Festival Palu Nomoni III, begitu kulihat judul rundown event yang dikirim oleh Suzana (tim Genpi Palu) yang akan menjadi guide sekaligus tuan rumah di acara itu nantinya. Jauh hari sebelumnya, sejak awal diminta bertugas, kupelajari betul segala hal yang terkait dengan event itu. Tak lupa kusiapkan catatan ringkas tentang pemerintahan kota Palu, administratif wilayah, kuliner khas, destinasi wisata, juga highlight tugas masing-masing anggota tim, kukirim ke group WA temporary yang kami buat sebelumnya.

Aku berharap tugasku perfect, setidaknya mendapat score/nilai raport 8 dari 10. Maklum, karena tugas diluar kebiasaan, jadi merasa kurang percaya diri. Sehari setelah gabung di group WA Palu Nomoni, Ku japri beberapa korlap senior yang pernah satu tim bersamaku saat tugas di Garut, di Solo, maupun di Ternate, meminta arahan, memohon bimbingan, "agar sempurna tugasku nanti," ujarku.

Festival Palu Nomoni III yang diselenggarakan kali ketiganya tahun 2018 ini adalah sebuah festival budaya yang dirancang untuk merayakan ulang tahun kota Palu. Penggagas dan penyelenggaranya adalah Pemkot Palu, ada Pasha Ungu disana sebagai wakil walikota-nya.

Nomoni dalam bahasa kaili (suku asli Sulawesi Tengah) berarti berbunyi atau berdendang. Dalam rundown event tahun ini kulihat sebuah atraksi yang mewakili nama event tersebut : pertunjukan seruling tradisional kolosal lalove yang konon akan tampilkan dengan meriah, sepanjang 7km teluk pantai Talise dengan 7 panggung yang menampilkan atraksi-atraksi berbeda.

Perhelatan akbar yang rencananya diselenggarakan dari tanggal 28 September s/d 03 Oktober ini masuk dalam 100 Kalender Event Nasional Kementrian Pariwisata. Dalam bahasa gaul anak anak Genpi lazim disebut Calendar of Event (CoE), yang mana dalam setiap perhelatan CoE Kemenpar, anak-anak komunitas Genpi (Generasi Pesona Indonesia) yang berkompeten dibidangnya dikirim dalam pertukaran tugas liputan. Jika ada CoE di Lombok, maka yang dikirim adalah Genpi dari Provinsi lain, pun sebaliknya. Selain untuk meningkatkan promosi antar daerah, tentu sebagai bonus kepada mereka-mereka yang komitmen dan berdedikasi untuk pariwisata. Viralnya dapat, tim CoE bisa jalan jalan gratis.

Festival yang diselenggarakan Pemkot Palu dan didukung oleh Kementrian Pariwisata ini ditujukan untuk membangkitkan kembali kearifan dan budaya lokal yang sudah lama terlupakan dalam bentuk seni dan pertunjukan yang mengangkat nilai-nilai budaya Sulawesi Tengah, juga sebagai media promosi pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. Seperti rilis media yang menyebutkan, Festival Palu Nomoni III dipastikan dihadiri oleh sekurang kurangnya 1.500 tamu undangan domestik juga mancanegara.




Lombok - Makassar - Palu


Pagi itu, pukul 08.00 sepulang mengantar anak sekolah kusempatkan menunaikan janji di sebuah dusun terpencil di desa Batulayar. Menyampaikan amanah berupa 10 sak semen dan satu gulung selang untuk sebuah rumah mengaji darurat. Bencana gempa bumi Lombok yang hampir 2 bulan lamanya sepertinya sudah mulai berlalu, tapi sisa-sisa puing kehancuran yang disebabkannya masih terlihat disana sini. Aku pun masih seperti sebagian masyarakat Lombok lainnya, tidur di ruang tamu dengan pintu terbuka lebar. Alasannya sederhana, jika ada gempa lagi, gampang untuk menyelamatkan diri.

Setelah menyampaikan amanah para donatur, aku pamit kembali ke kantor, boarding pass belum tercetak. Sedikit tergesa gesa memang, selain waktu yg mepet, juga kerjaan di kantor baru juga menumpuk.  Setelah tercetak aku kembali kerumah dan memasukkan satu persatu perlengkapan liputan dan juga perlengkapan pribadi yang telah kucatat dalam sebuah check list di hapeku. Tak lupa kumasukkan juga lensa Canon 70-200 F4/L milik Ricko, seorang sahabat dan juga tim kerja-ku di dunia dokumentasi jika ada job.



Pukul 11.30, setelah pamitan ke istri dan memeluk erat putri kecilku Claura, aku memesan Gojek, lalu kembali ke kantor sambil menunggu pukul 14.00 untuk berangkat ke airport. Ba'da zuhur, kutelpon kembali Gojek langgananku untuk mengantar ke airport. 75 ribu tentu lebih irit dibandingkan naik gocar atau grab yang hampir 200 ribu. Sepanjang jalan menuju airport aku tertidur, beberapa kali sempat tersentak kaget karena hampir terjatuh, namun rasa ngantuk terus menyerang.

Aku baru terbangun saat motor gojek tumpanganku memasuki gapura dan membayar parkir, baru jalan 2 meter tiba-tiba motor yamaha mio itupun mati. Sempat berpikir bahwa ini adalah firasat kurang baik, tapi pikiran itu kutepis jauh-jauh. Kulanjutkan perjalanan menuju area utama bandara dengan menumpang di seorang petugas yang ikhlas mengantarkanku ke dalam.

Sebelum masuk ruang tunggu, selama proses check in sampai masuk ruang tunggu kusempatkan menginstal aplikasi BMKG untuk memantau cuaca dan juga info gempa.  Jujur, info gempa di Palu 2 hari sebelumnya membuatku sedikit waspada. Sesaat setelah mulai masuk pesawat, kusempatkan video call dengan putriku yg penasaran ingin melihat isi dalam pesawat. Aku mengatakan aku mencintainya. Sambil menutup video call, tak lupa kuberikan sun jauh untuk mereka berdua. Waktu Transit di Makassar kupergunakan untuk menghubungi teman teman yg lama tak pernah kusapa via WA, entah mengapa aku begitu ingin menghubungi mereka. Pukul 21.00 wita pesawatpun berangkat menuju Palu...

Sekitar Pukul 23.00 Tiba di bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu. Disana sudah menunggu ketua Genpi Palu, Suzana lengkap dengan asistennya si Ifa. Rani sang drafter yg berasal dari Genpi Maluku ternyata satu pesawat denganku, karena belum kenal satu dengan yg lain jadinya tidak ada komunikasi sebelumnya, bahkan akupun tak tau jika dia juga transit di Makassar. Kami 1 mobil bergegas menuju sebuah rumah makan di pusat Kota. Suasana jadi ramai, tim liputan yg lain dan 2 orang staff (fotografer) kemenpar (Mbak Nana & Ombeng) juga ada disana. Selesai makan malam kemudian bersama sama menuju hotel The Sya untuk istirahat.

Sebelum tidur, kami sempatkan breafing singkat untuk acara besok paginya, mengingat pembukaan Festival nomoni diselenggarakan pukul 20.00 wita. Keputusan singkat, pukul 09.00 berangkat eksplorasi destinasi terdekat, salah satunya cagar budaya berupa rumah peninggalan raja di masa lalu. Suasana yg begitu panas membuatku tidak bisa tidur. Suhu AC sudah kuturunkan sampai angka terendah 16 derajat, namun kamar hotel itu tak kunjung sejuk. Benar pesan Frea sebelum berangkat ; Kota Palu mataharinya 3. Sampai pukul 2 dinihari aku gelisah, seperti tak betah. Tidak biasanya begini, namun karena mungkin badan sudah ketih, akupun tertidur, pulas sampai pagi...

Eksplorasi Kota Palu, 28 Oktober 2018


09.00 Pagi Jumat, 28 Oktober 2018 di hotel The Sya Palu, kami berkumpul untuk berkelana mengelilingi kota Palu separuh waktu. Semua personil sudah siap lengkap dengan gear andalan masing-masing. Ada Akhmad David Fotografer Genpi Maluku Utara, Ifa drafter lokal Genpi Palu, Suzana PIC lokal Genpi Palu, Papisher youtuber Palu, Rani Genpi Maluku, Frea sang PIC dari Genpi Nasional, mbak Nana dan pak Bambang dari staff Kementrian Pariwisata (Fotografer senior).

Target pertama sesuai kesepakatan semalam, yakni Cagar Budaya peninggalan kerajaan Palu di masa lalu. Kedatangan kami disambut hangat oleh pengelola sekaligus guide yang merupakan keturunan kerajaan Palu. Beberapa orang dari kami masuk dipandu olehnya, namun aura mistis sedikit mengusikku. Aku dan Frea memilih keluar dan berbicang-bincang santai di halaman. Selesai mencatat sejarah sejarah penting tentang kerajaan Palu, sebagian dari kami beranjak mencari supermarket membeli kebutuhan perut, sebagian lagi menunggu di lokasi cagar budaya.

Pintu Gerbang utama Cagar Budaya Banua Oge

Rumah Kuno peninggalan Raja Palu

Rumah Kuno Peninggalan Raja Palu

Rumah Kuno Peninggalan Raja Palu kedua

Pelataran pintu masuk ke dalam rumah Kuno

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Foto Raja Palu dan prajuritnya

Papan informasi tentang Rumah Kuno


Balik dari supermarket, kami berkumpul lagi di lokasi awal dan memutuskan untuk sholat Jumat di masjid depan cagar budaya. Cuaca yang panas menyengat membuat kami sedikit malas beranjak kemana-mana. Sayangnya aku harus merelakan untuk tidak ikut Jumatan karena masjid tidak menyediakan sarung untuk pengunjung. Rasanya begitu rugi, aku menyesal tidak menggunakan celana panjang sejak awal berangkat. Ya rabb ampuni aku...

Ba'da Jumat kami beranjak ke sebuah warung makan sederhana yang menyajikan kuliner khas kota Palu, Sayur kelor dengan sajian kuah santan dan aneka lauk pauk ikan bakar dan goreng yang begitu menggoda. Tak lupa kami mencoba sajian kelapa muda yang ditambah racikan sejenis pala yang begitu laris, warung makan itu ramai, orang berdatangan tak henti henti.
Menu kuliner khas Palu : Kelor Santan

Aneka santap siang di warung kuliner khas Palu

Papi sher youtuber Palu, dan Rani

Papisher, Youtuber Palu

Ombeng, Fotografer Kemenpar

Mas Widi, Tim Media Kementrian Pariwisata


Perut berisi, pikiran pun sedikit cerah. Kami memilih kembali ke hotel dan melanjutkan eksplor destinasi nanti sore setelah matahari sedikit bersahabat. Mobil tumpangan Frea dan Ombeng melanjutkan ke toko oleh oleh, sedangkan aku dan mas Widi memilih langsung kembali ke Hotel untuk beristirahat.

Pukul 14.15 kami tiba dihotel dan langsung masuk kamar. Cuaca siang itu begitu panas, orang orang di hotel pun mengatakan hal yang sama, tidak seperti biasanya katanya. AC ku hidupkan sampai suhu terendah, 30 menit berlalu tak jua kunjung dingin. Aku memilih rebahan di bawah, di lantai 2 hotel, tanpa alas karena terasa lebih sejuk. Baru beberapa menit terlelap, aku dikagetkan dengan goyangan lantai hotel yang menghentak keras. Menyadari bahwa itu adalah gempa yang besar, seperti biasanya waktu di Lombok aku memilih keluar kamar, di Lombok kami menyebutnya #AutoZohri, lari sprint untuk secepatnya keluar gedung. Aku memilih lari melewati tangga, sampai di lobby tak kulihat kepanikan dari orang orang sekitar.

Seorang gadis peramu saji yang baru keluar dari restaurant lantai I hotel tersebut terbengong bengong, "Ada apa pak?" tanyanya. "Ini kan lagi gempa, koq pada ngga takut,?" tanyaku.

"Owh, disini biasa pak, tiap minggu gempa, tapi tidak apa apa, tidak membahayakan seperti gempa di Lombok," jelasnya.

"Nah, justru karena saya orang Lombok, jadi saya perlu khawatir," terangku padanya.

"Owh, bapak mungkin trauma ya, santai ya pak, jangan panik," tutupnya sambil berlalu.

Aku heran, tapi memilih diam dan menunggu di dekat pintu masuk lobby. Masih deg-degan dengan gempa yang baru saja aku rasakan. Ku check di BMKG, seingatku laporan gempa itu diatas 5.0+ Skala Richter. Beberapa menit berlalu akupun memutuskan kembali ke atas. Kutanya Frea via chat WA, katanya merasakan juga, tapi dia memilih diam di dalam kamar karena masih belum pada siap untuk lari keluar. Sampai di depan kamar 2003, pintu kamar ternyata tertutup dan terkunci, aku lupa mencabut kuncinya ketika keluar. Aku turun lagi ke Lobby minta dibukakan, baru mau beranjak naik ke lantai II, gempa dengan goyangan yang hampir sama terjadi lagi. Aku lari keluar gedung, berpanas-panasan sambil melihat gedung hotel The Sya, firasatku sudah tidak enak, sedikit was was, tapi bagaimanapun juga, aku harus istirahat biar maksimal nanti liputan di lapangan.

Aku kembali beranjak masuk, naik melalui tangga dan menuju kamar diiringi petugas yang hendak membukakan pintu. Chat dari mbak Jhe dan teman temanku di Lombok, juga istriku masuk mengabarkan status Gempa di BMKG yang barusaja mereka terima, sepertinya mereka juga khawatir, tapi seperti kata staff hotel, kujelaskan bahwa aku insya Allah baik baik saja, tidak ada kerusakan dan gempanya tidak merusak.

Setelah itu, aku memilih beristirahat, rebahan sambil menunggu waktu Ashar tiba. Karena ngantuk dan badan yg letih, aku tertidur. Dering panggilan di hapeku membangunkanku, terasa baru sebentar saja aku terlelap, dengan malas kuangkat telpon dari teman kantorku yang juga menanyakan status gempa yang barusaja terjadi di palu. Setelah panggilan itu putus, aku memilih mandi kemudian sholat ashar. Jadwal kumpul yang kubuat seharusnya pukul 16.00 molor menjadi 16.20. Tim semua kumpul dan memutuskan untuk berangkat ke Lokasi penyelenggaraan event Palu Nomoni III di Teluk Talise kota Palu.

Ifa, Genpi Palu

Suzana, Genpi Palu
Team Liputan, kurang Lengkap


Kami berangkat menggunakan 3 mobil, kondisi jalan sudah mulai ramai, bahkan bisa disebut mulai macet. Beberapa ruas jalan pintas menuju lokasi sudah ditutup dan padat sesak. Masyarakat kota Palu begitu antusias, berbondong bondong sepanjang jalan menuju Teluk Talise. Bahkan ID Card "ALL ACCESS" kami pun tak bisa banyak menolong, akhirnya driver kami memilih parkir di lapangan TVRI yang berlokasi persis di depan venue utama.

Bersambung ke Part II | Part III Baca Disini

Kamis, 20 September 2018

#SekolahRelawan, Ajang Menimba Ilmu Menjadi Manusia yg Memanusiakan Orang Lain

Pemuda2 setempat yg bergabung dibawah GPA (Gabungan Pecinta Alam)

Ditulis oleh : Dik Yusi Laman - Bali

Entah sudah berapa daerah bencana di Indonesia kusambangi, baru Santong - Lombok Utara yang kutinggalkan dengan berlinang air mata. Aku bukan model manusia yg suka ber-akrab ria ngobrol secara pribadi, karena aku ini aslinya sangat emosional. Gampang meledak tapi juga gampang terenyuh. Aku cenderung jaga jarak, supaya otak dan hati tetap netral dalam berkegiatan.

Relawan-relawan yg bergabung di Posko Sekolah Relawan datang dari berbagai daerah dan negara secara pribadi maupun sebagai anggota organisasi-organisaso relawan, dan persamaannya cuma rata-rata koplak dan suka ngebully nenek-nenek. Anak-anak muda GPA (Gabungan Pecinta Alam) Santong yg gak ada capeknya itu cuma bertukar senyum saat kami papasan atau ngobrol serius urusan kegiatan. Penduduk sekitar Basecamp Sekolah Relawan di Santong juga cuma nyapa "Bundaaaa ...." pas aku lewat. Kami bahkan mungkin tidak saling tahu nama masing-masing. Semua terasa mengalir biasa saja, seperti di daerah-daerah bencana lainnya.

Relawan yg tersisa dihari kepulanganku

Tapi saat pamit hari Selasa lalu setengah mati aku menahan tangis, apalagi saat Inak Rus & ibunya Papuk Imo memelukku erat dengan terisak-isak. Yang paling berat saat pisah di airport dgn Chef Van Gooy, padahal kami baru ketemu di bencana Gempa Lombok saja, dan semua ini membuka mataku tentang makna dari nama "SEKOLAH RELAWAN" (SR).

SR bukan institusi edukasi formal, tidak ada kelas apalagi sertifikat. Tapi pola relawanan yg diterapkan sehari-hari memungkinkan siapa saja yg berkegiatan bareng SR bisa belajar jadi relawan yg sesungguhnya, asal punya niat berbagi, dan cukup peka untuk menggunakan otak & hati. SR membuat kita belajar menjadi manusia yg tahu memanusiakan orang lain, dalam kehidupan yg kita jalani sehari-hari.

6 minggu bergabung dgn Posko SR di "Gempa Lombok", saya (Dik Yusi Laman - Bali) - yg praktis berlabel Relawan Senior - belajar banyak. SR mengarahkan dan mencontohkan pada semua relawan yg bergabung bahwa relawanan bukan soal gagah-gagahan mengibarkan bendera organisasi, seperti binatang menandai daerah kekuasaannya. Relawanan bukan ajang sok-sokan siapa lebih pengalaman di lapangan, apalagi gegayaan merasa posisi & tugasnya lebih penting dari orang lain - termasuk dari sesama relawan. Dan terlebih lagi, relawanan bukan tentang merasa menjadi pahlawan bagi yg membutuhkan. Tidak ada sepotongpun ucapan maupun prilaku yg mencerminkan pemikiran politik masing-masing, karena egoisme dan kepicikan adalah hal yang sangat tidak patut dibawa-bawa dalam kegiatan kemanusiaan.






Relawan sepatutnya jadi sosok manusia yang keberadaannya menimbulkan rasa nyaman dan memberi manfaat pada orang2 sekelilingnya - dimanapun dan kapanpun!!

I have no enough words to express my gratitude in having such a big honor to work together with SR, dengan semua relawan yg bergabung di Posko Relawan Santong, KLU, dan juga dengan anak2 GPA. Kalian mungkin kalah umur dan pengalaman dibanding aku, tapi kalian sudah jadi contoh nyata, bahwa relawanan bisa dilakukan oleh siapa saja kapan saja dimana saja, tanpa perlu menunggu punya waktu luang apalagi nunggu punya duit lebih!!

THANK YOU & love you all, Guys 😘😘😘

Nuansa #NTBBangkit Akan Warnai Festival Pesona Senggigi 2018


JACKYSAN LOMBOK, Gerung – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Kebuadayaan dan Pariwisata setiap tahunnya selalu memiliki program andalan. Salah satu program pariwisata andalannya adalah Festival Senggigi. Festival Senggigi bukannya saja andalan dari Lombok Barat, melainkan telah menjadi kebanggaan, karena Festival ini merupakan salah satu tertua di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tahun ini, Festival Senggigi akan kembali diselenggarakan. Dengan nama Festival Pesona Senggigi, tema yang diangkat adalah Rowah Asuh Gumi. Tahun ini Festival Pesona Senggigi 2018 akan hadir dengan nuansa budaya khasnya dan akan ditambahkan dengan beragam rangkaian penyembuhan trauma sebagai salah satu komitmen mendukung #NTBBangkit.

Nuansa #NTBBangkit memang sengaja dijadikan suguhan dalam pelaksanaan Festival Tahunan yang berlangsung di Pantai Senggigi ini. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, ingin adanya suatu program yang mampu membantu masyarakat menghilangkan rasa trauma atas gempa yang terjadi selama ini.

“Program-program trauma healing masih dibutuhkan oleh masyarakat Lombok, itulah sebabnya Festival Pesona Senggigi juga akan menyuguhkan rangkaian kegiatan trauma healing disamping kegiatan kebudayaannya”, ungkap Kadisbudpar.

Festival Pesona Senggigi 2018 telah resmi dibuka setelah ditutupnya kegiatan Sail Indonesia Moyo Tambora 2018 yang berlokasi di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Staf Khusus Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Bapak Buyung Lalana.

Sebelum membuka, Buyung juga turut mengapresiasi Pariwisata NTB yang memiliki beragam festival. Beliau mengakui bahwa ini merupakan langkah yang baik. Bahkan, Buyung juga turut meminta akan hadirnya rangkaian kegiatan baru yang mampu mendongkrak promosi potensi bawah laut yang ada di Lombok.

“Saya sangat senang dan mengapresiasi pariwisata NTB, karena begitu semangat melaksanakan festival pariwisata. Kalau boleh usul, coba buat kegaitan Lomba Foto Bawah laut, saya yakin ini sangat ampuh mempromosikan potensi bawah laut. Inilah yang terjadi pada Raja Ampat. Pesertanya pasti akan berskala internasional”, ungkap Buyung.

Festival Pesona Senggigi 2018 akan dilaksanakan pada 21-22 September 2018 di Pantai Senggigi dan Pasar Seni Senggigi. Festival Tari Daerah, Lomba Gendang Beleq, Bazaar, Trauma Healing dan Hiburan adalah rangkaian kegiatan yang akan disuguhkan dimulai dari pagi hari hingga malam hari selama Festival berlangsung.

Selasa, 04 September 2018

Liburan Ke Sumbawa? Jangan Lewatkan Rangkaian Kegiatan Sail Indonesia Moyo Tambora 2018 ini

JACKYSAN LOMBOK - Pelaksanaan even kelas dunia Sail Indonesia Moyo Tambora 2018 yang pelaksanaannya dipusatkan di Perairan Pulau Sumbawa dalam hitungan hari akan segera berlangsung. Pemerintah Kabupaten Sumbawa serta Pemerintah Kabupaten/Kota lainnya di Pulau Sumbawa melalui Dinas Pariwisatanya telah menyusun beragam rangkaian kegiatan yang akan memeriahkan pelaksanaan even yang akan berlangsung pada tanggal 9 – 23 September ini.

Setidaknya terdapat 19 rangkaian kegiatan yang akan disuguhkan bagi para yachter-yachter dari sekitar 42 negara yang akan menurunkan jangkarnya di perairan Pulau Sumbawa. Dimulai dari pagelaran seni dan budaya, alam dan bahari, hingga kuliner akan menjadi suguhan menarik selama para yachter berada di Pulau Sumbawa.



Rangkaian awal kegiatan dimulai dari Kab. Bima. Karena Kab. Bima menjadi gerbang utama yang menyambut kedatangan para yachter ketika memasuki perairan Pulau Sumbawa setelah berlayar dari Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Kegiatan penyambutanpun telah disiapkan, seperti penyambutan oleh Kesultanan Bima serta kegiatan Volcano Tour Gunung Tambora pada tanggal 7-8 September 2018.

Pada tanggal 9 September 2018, merupakan hari pemukulan gong pembukaan rangkaian kegiatan Sail Moyo Tambora. Opening Ceremony akan berlangsung dan dirangkaian dengan International Yacht Rally, Pertunjukan Seni dan Budaya, Maritime and Tourism Expo dan malam harinya dilanjutkan dengan Gala Dinner di halaman Kantor Bupati Kab. Sumbawa.

Pada hari selanjutnya para yachter akan disuguhkan kegiatan City Parade, Moyo Tambora Fun Run dengan titik finish di Pantai Saliper Ate dan International Culinary Program untuk memerkenalkan cita rasa kuliner Indonesia pada para yachter. Adapula kegiatan International Tenun Festival, Dialog Budaya dan juga Investment Forum untuk membuka peluang investasi di Kab. Sumbawa.

Asia-Pasific Global Network International Seminar, Barapan Kebo, Pacuan Kuda dan Pengecekan Kesehatan juga merupakan rangkaian kegiatan yang akan berlangsung di Kab. Sumbawa hinggal tanggal 17 September 2018, sebelum akhirnya para yachter melanjutkan mengarungi perairan menuju arah Gili Balu Kab. Sumbawa Barat dan kegiatan dialihkan ke Desa Mantar yaitu International Paragliding.

Dari perairan Pulau Sumbawa, selanjutnya para yachter akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok, lebuh tepatnya di Medana Bay, Lombok Utara dan akan disuguhkan dengan kegiatan Gili Begawe. Medana Bay telah menjadi Stop Point bagi para yachter selama bertahun-tahun dalam setiap program Sail Indonesia. Pada tahun 2017 lalu, kegiatan penyambutan juga dilakukan di Medana Bay, dan para yachter sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang ada.

Seluruh rangkaian kegiatan Sail Moyo Tambora akan ditutup di Pulau Lombok. Setelah tiba di Medana Bay pada 20 September 2018, selanjutnya para yachter akan dihibur dengan alunan musik jazz di tepi pantai senggigi dalam kegiatan Senggigi Jazz Festival, lalu kemudian pada tanggal 23 September 2018 akan dilanjutkan dengan Farewell Party Sail Moyo Tambora bertempat di Dermaga Cruise, Gili Mas, Lembar. Kegiatan ini sekaligus menutup secara resmi seluruh rangkaian kegiatan Sail Moyo Tambora yang telah berlangsung sejak 9 September 2018 dan melepas perjalanan para Yachter menuju destinasi selanjutnya.

Melihat seluruh rangkaian yang telah disiapkanpun menarik perhatian Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Bapat Arief Yahya. Menurut Menpar Arief Yahya, manajemen even pariwisata NTB sudah sangat bagus. Hal ini terlihat dari keberhasilan NTB menggelar Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2018. Event tersebut merupakan event akbar. Karena dihadiri kurang lebih oleh 35 negara dengan lebih dari 5000 prajurit Angkatan Laut.

“Event MNEK 2018 belum lama ini berlangsung sukses. Karena hingga saat ini, kegiatan tersebut zero accident, serta zero complain, ini merupakan suatu prestasi tentunya,” ujar Menpar Arief Yahya.

Kamis, 25 Januari 2018

Wow, Lombok Sumbawa Great Sale 2018 Tawarkan Diskon Up to 65 Kepada Wisatawan

Lombok Sumbawa Great Sale 2018
Add caption
PesonaLombokSumbawa.travel, Mataram – Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (DIspar NTB) mengawali tahun 2018 dengan program diskon besar-besaran bagi masyarakat NTB maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Diskon besar-besaran ini merupakan bagian dari program Lombok Sumbawa Great Sale (LSGS) 2018.

Sabtu (20/01) bertempat di pusat perbelanjaan di Kota Mataram, Transmart, Dispar NTB melakukan peluncuran program LSGS 2018. LSGS 2018 sendiri merupakan salah satu program Dispat NTB yang dilaksanakan untuk mengapresiasi para wisatawan yang kerap berkunjung ke Nusa Tenggara Barat. Melalui program LSGS ini, nantinya para wisatawan akan diberikan kemudahan berupa potongan harga hingga 65% yang telah disediakan oleh airlines, toko oleh-oleh, pusat perbelanjaan, hotel, tour travel dan industry lainnya yang terlibat.

Kepala Dinas Pariwsata (Kadispar) NTB, Bapak Lalu Moh. Faozal dalam sambutannya menyatakan bahwa Event Lombok Sumbawa Great Sale 2018 ini merupakan salah satu bentuk dari keseriusan Pemerintah dalam mengembangkan pariwisata. Ini juga merupakan bentuk apresiasi dari para pelaku pariwisata NTB kepada para wisatawan yang telah berkunjung ke NTB dan untuk mendongkrak angka kunjungan wisatawan di awal tahun.

Belajar dari pelaksanaan LSGS tahun 2017, dalam pelaksanaan Lombok Sumbawa Great Sale (LSGS) tahun ini Dispar NTB berusaha untuk lebih meningkatkan sosialisasi pada masyarakat agar program ini mampu terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan. Selain itu, dalam LSGS tahun ini pun Dispar NTB berusaha memperbanyak pihak-pihak yang terlibat terutama industry-industri yang bersentuhan secara langsung dengan pariwisata.

Dalam peluncuran program yang berlangsung pada malam hari itu, Bapak Lalu Moh. Faozal juga memperkenalkan website resmi dari pelaksanaan LSGS 2018, di mana pada tahun sebelumnya program LSGS belum sebaik tahun ini dalam persiapannya dan diharapkan persiapan tahun ini mampu membuat LSGS 2018 lebih baik dari tahun sebelumnya serta mampu berkelanjutan untuk tahun selanjutnya.

Seluruh informasi terkait merchant yang terlibat serta jumlah diskon yang ditawarkan dapat dilihat pada website resmi LSGS 2018 yaitu www.lomboksumbawagreatsale.com. Berbagai jenis industry yang terlibat telah menyediakan penawaran yang menarik bagi para wisatawan.

Courtesy of : Dinas Pariwisata NTB