Kamis, 04 Oktober 2018

Palu Nomoni (Bersuara), Ketika Palu dihantam Tsunami Part 1

Jembatan Kuning Kota Palu

Lombok, 27 September 2018 - Keberangkatanku ke Palu bukanlah sebuah perjalanan yang direncanakan. Bagiku, dipercaya sebagai korlap (Koordinator Lapangan) menggantikan seorang senior di Genpi Nasional juga bukanlah perkara mudah. Mengatur tim liputan agar sesuai dengan tupoksi dan juga mencapai target tentunya butuh ilmu tambahan selain ilmu jepret-menjepret. Ya, jika biasanya aku bertugas keluar daerah sebagai tukang foto, kali ini adalah kali pertama ditunjuk sebagai korlap atau memimpin tim liputan yang terdiri dari fotografer, videografer, drafter, blogger, youtuber, juga beberapa tim media Kementrian Pariwisata. Sebuah amanah yang sepertinya menyenangkan, tapi juga bikin jantung berdebar-debar.

Pesona Festival Palu Nomoni III, begitu kulihat judul rundown event yang dikirim oleh Suzana (tim Genpi Palu) yang akan menjadi guide sekaligus tuan rumah di acara itu nantinya. Jauh hari sebelumnya, sejak awal diminta bertugas, kupelajari betul segala hal yang terkait dengan event itu. Tak lupa kusiapkan catatan ringkas tentang pemerintahan kota Palu, administratif wilayah, kuliner khas, destinasi wisata, juga highlight tugas masing-masing anggota tim, kukirim ke group WA temporary yang kami buat sebelumnya.

Aku berharap tugasku perfect, setidaknya mendapat score/nilai raport 8 dari 10. Maklum, karena tugas diluar kebiasaan, jadi merasa kurang percaya diri. Sehari setelah gabung di group WA Palu Nomoni, Ku japri beberapa korlap senior yang pernah satu tim bersamaku saat tugas di Garut, di Solo, maupun di Ternate, meminta arahan, memohon bimbingan, "agar sempurna tugasku nanti," ujarku.

Festival Palu Nomoni III yang diselenggarakan kali ketiganya tahun 2018 ini adalah sebuah festival budaya yang dirancang untuk merayakan ulang tahun kota Palu. Penggagas dan penyelenggaranya adalah Pemkot Palu, ada Pasha Ungu disana sebagai wakil walikota-nya.

Nomoni dalam bahasa kaili (suku asli Sulawesi Tengah) berarti berbunyi atau berdendang. Dalam rundown event tahun ini kulihat sebuah atraksi yang mewakili nama event tersebut : pertunjukan seruling tradisional kolosal lalove yang konon akan tampilkan dengan meriah, sepanjang 7km teluk pantai Talise dengan 7 panggung yang menampilkan atraksi-atraksi berbeda.

Perhelatan akbar yang rencananya diselenggarakan dari tanggal 28 September s/d 03 Oktober ini masuk dalam 100 Kalender Event Nasional Kementrian Pariwisata. Dalam bahasa gaul anak anak Genpi lazim disebut Calendar of Event (CoE), yang mana dalam setiap perhelatan CoE Kemenpar, anak-anak komunitas Genpi (Generasi Pesona Indonesia) yang berkompeten dibidangnya dikirim dalam pertukaran tugas liputan. Jika ada CoE di Lombok, maka yang dikirim adalah Genpi dari Provinsi lain, pun sebaliknya. Selain untuk meningkatkan promosi antar daerah, tentu sebagai bonus kepada mereka-mereka yang komitmen dan berdedikasi untuk pariwisata. Viralnya dapat, tim CoE bisa jalan jalan gratis.

Festival yang diselenggarakan Pemkot Palu dan didukung oleh Kementrian Pariwisata ini ditujukan untuk membangkitkan kembali kearifan dan budaya lokal yang sudah lama terlupakan dalam bentuk seni dan pertunjukan yang mengangkat nilai-nilai budaya Sulawesi Tengah, juga sebagai media promosi pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. Seperti rilis media yang menyebutkan, Festival Palu Nomoni III dipastikan dihadiri oleh sekurang kurangnya 1.500 tamu undangan domestik juga mancanegara.




Lombok - Makassar - Palu


Pagi itu, pukul 08.00 sepulang mengantar anak sekolah kusempatkan menunaikan janji di sebuah dusun terpencil di desa Batulayar. Menyampaikan amanah berupa 10 sak semen dan satu gulung selang untuk sebuah rumah mengaji darurat. Bencana gempa bumi Lombok yang hampir 2 bulan lamanya sepertinya sudah mulai berlalu, tapi sisa-sisa puing kehancuran yang disebabkannya masih terlihat disana sini. Aku pun masih seperti sebagian masyarakat Lombok lainnya, tidur di ruang tamu dengan pintu terbuka lebar. Alasannya sederhana, jika ada gempa lagi, gampang untuk menyelamatkan diri.

Setelah menyampaikan amanah para donatur, aku pamit kembali ke kantor, boarding pass belum tercetak. Sedikit tergesa gesa memang, selain waktu yg mepet, juga kerjaan di kantor baru juga menumpuk.  Setelah tercetak aku kembali kerumah dan memasukkan satu persatu perlengkapan liputan dan juga perlengkapan pribadi yang telah kucatat dalam sebuah check list di hapeku. Tak lupa kumasukkan juga lensa Canon 70-200 F4/L milik Ricko, seorang sahabat dan juga tim kerja-ku di dunia dokumentasi jika ada job.



Pukul 11.30, setelah pamitan ke istri dan memeluk erat putri kecilku Claura, aku memesan Gojek, lalu kembali ke kantor sambil menunggu pukul 14.00 untuk berangkat ke airport. Ba'da zuhur, kutelpon kembali Gojek langgananku untuk mengantar ke airport. 75 ribu tentu lebih irit dibandingkan naik gocar atau grab yang hampir 200 ribu. Sepanjang jalan menuju airport aku tertidur, beberapa kali sempat tersentak kaget karena hampir terjatuh, namun rasa ngantuk terus menyerang.

Aku baru terbangun saat motor gojek tumpanganku memasuki gapura dan membayar parkir, baru jalan 2 meter tiba-tiba motor yamaha mio itupun mati. Sempat berpikir bahwa ini adalah firasat kurang baik, tapi pikiran itu kutepis jauh-jauh. Kulanjutkan perjalanan menuju area utama bandara dengan menumpang di seorang petugas yang ikhlas mengantarkanku ke dalam.

Sebelum masuk ruang tunggu, selama proses check in sampai masuk ruang tunggu kusempatkan menginstal aplikasi BMKG untuk memantau cuaca dan juga info gempa.  Jujur, info gempa di Palu 2 hari sebelumnya membuatku sedikit waspada. Sesaat setelah mulai masuk pesawat, kusempatkan video call dengan putriku yg penasaran ingin melihat isi dalam pesawat. Aku mengatakan aku mencintainya. Sambil menutup video call, tak lupa kuberikan sun jauh untuk mereka berdua. Waktu Transit di Makassar kupergunakan untuk menghubungi teman teman yg lama tak pernah kusapa via WA, entah mengapa aku begitu ingin menghubungi mereka. Pukul 21.00 wita pesawatpun berangkat menuju Palu...

Sekitar Pukul 23.00 Tiba di bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu. Disana sudah menunggu ketua Genpi Palu, Suzana lengkap dengan asistennya si Ifa. Rani sang drafter yg berasal dari Genpi Maluku ternyata satu pesawat denganku, karena belum kenal satu dengan yg lain jadinya tidak ada komunikasi sebelumnya, bahkan akupun tak tau jika dia juga transit di Makassar. Kami 1 mobil bergegas menuju sebuah rumah makan di pusat Kota. Suasana jadi ramai, tim liputan yg lain dan 2 orang staff (fotografer) kemenpar (Mbak Nana & Ombeng) juga ada disana. Selesai makan malam kemudian bersama sama menuju hotel The Sya untuk istirahat.

Sebelum tidur, kami sempatkan breafing singkat untuk acara besok paginya, mengingat pembukaan Festival nomoni diselenggarakan pukul 20.00 wita. Keputusan singkat, pukul 09.00 berangkat eksplorasi destinasi terdekat, salah satunya cagar budaya berupa rumah peninggalan raja di masa lalu. Suasana yg begitu panas membuatku tidak bisa tidur. Suhu AC sudah kuturunkan sampai angka terendah 16 derajat, namun kamar hotel itu tak kunjung sejuk. Benar pesan Frea sebelum berangkat ; Kota Palu mataharinya 3. Sampai pukul 2 dinihari aku gelisah, seperti tak betah. Tidak biasanya begini, namun karena mungkin badan sudah ketih, akupun tertidur, pulas sampai pagi...

Eksplorasi Kota Palu, 28 Oktober 2018


09.00 Pagi Jumat, 28 Oktober 2018 di hotel The Sya Palu, kami berkumpul untuk berkelana mengelilingi kota Palu separuh waktu. Semua personil sudah siap lengkap dengan gear andalan masing-masing. Ada Akhmad David Fotografer Genpi Maluku Utara, Ifa drafter lokal Genpi Palu, Suzana PIC lokal Genpi Palu, Papisher youtuber Palu, Rani Genpi Maluku, Frea sang PIC dari Genpi Nasional, mbak Nana dan pak Bambang dari staff Kementrian Pariwisata (Fotografer senior).

Target pertama sesuai kesepakatan semalam, yakni Cagar Budaya peninggalan kerajaan Palu di masa lalu. Kedatangan kami disambut hangat oleh pengelola sekaligus guide yang merupakan keturunan kerajaan Palu. Beberapa orang dari kami masuk dipandu olehnya, namun aura mistis sedikit mengusikku. Aku dan Frea memilih keluar dan berbicang-bincang santai di halaman. Selesai mencatat sejarah sejarah penting tentang kerajaan Palu, sebagian dari kami beranjak mencari supermarket membeli kebutuhan perut, sebagian lagi menunggu di lokasi cagar budaya.

Pintu Gerbang utama Cagar Budaya Banua Oge

Rumah Kuno peninggalan Raja Palu

Rumah Kuno Peninggalan Raja Palu

Rumah Kuno Peninggalan Raja Palu kedua

Pelataran pintu masuk ke dalam rumah Kuno

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Sisa peninggalan kerajaan Palu

Foto Raja Palu dan prajuritnya

Papan informasi tentang Rumah Kuno


Balik dari supermarket, kami berkumpul lagi di lokasi awal dan memutuskan untuk sholat Jumat di masjid depan cagar budaya. Cuaca yang panas menyengat membuat kami sedikit malas beranjak kemana-mana. Sayangnya aku harus merelakan untuk tidak ikut Jumatan karena masjid tidak menyediakan sarung untuk pengunjung. Rasanya begitu rugi, aku menyesal tidak menggunakan celana panjang sejak awal berangkat. Ya rabb ampuni aku...

Ba'da Jumat kami beranjak ke sebuah warung makan sederhana yang menyajikan kuliner khas kota Palu, Sayur kelor dengan sajian kuah santan dan aneka lauk pauk ikan bakar dan goreng yang begitu menggoda. Tak lupa kami mencoba sajian kelapa muda yang ditambah racikan sejenis pala yang begitu laris, warung makan itu ramai, orang berdatangan tak henti henti.
Menu kuliner khas Palu : Kelor Santan

Aneka santap siang di warung kuliner khas Palu

Papi sher youtuber Palu, dan Rani

Papisher, Youtuber Palu

Ombeng, Fotografer Kemenpar

Mas Widi, Tim Media Kementrian Pariwisata


Perut berisi, pikiran pun sedikit cerah. Kami memilih kembali ke hotel dan melanjutkan eksplor destinasi nanti sore setelah matahari sedikit bersahabat. Mobil tumpangan Frea dan Ombeng melanjutkan ke toko oleh oleh, sedangkan aku dan mas Widi memilih langsung kembali ke Hotel untuk beristirahat.

Pukul 14.15 kami tiba dihotel dan langsung masuk kamar. Cuaca siang itu begitu panas, orang orang di hotel pun mengatakan hal yang sama, tidak seperti biasanya katanya. AC ku hidupkan sampai suhu terendah, 30 menit berlalu tak jua kunjung dingin. Aku memilih rebahan di bawah, di lantai 2 hotel, tanpa alas karena terasa lebih sejuk. Baru beberapa menit terlelap, aku dikagetkan dengan goyangan lantai hotel yang menghentak keras. Menyadari bahwa itu adalah gempa yang besar, seperti biasanya waktu di Lombok aku memilih keluar kamar, di Lombok kami menyebutnya #AutoZohri, lari sprint untuk secepatnya keluar gedung. Aku memilih lari melewati tangga, sampai di lobby tak kulihat kepanikan dari orang orang sekitar.

Seorang gadis peramu saji yang baru keluar dari restaurant lantai I hotel tersebut terbengong bengong, "Ada apa pak?" tanyanya. "Ini kan lagi gempa, koq pada ngga takut,?" tanyaku.

"Owh, disini biasa pak, tiap minggu gempa, tapi tidak apa apa, tidak membahayakan seperti gempa di Lombok," jelasnya.

"Nah, justru karena saya orang Lombok, jadi saya perlu khawatir," terangku padanya.

"Owh, bapak mungkin trauma ya, santai ya pak, jangan panik," tutupnya sambil berlalu.

Aku heran, tapi memilih diam dan menunggu di dekat pintu masuk lobby. Masih deg-degan dengan gempa yang baru saja aku rasakan. Ku check di BMKG, seingatku laporan gempa itu diatas 5.0+ Skala Richter. Beberapa menit berlalu akupun memutuskan kembali ke atas. Kutanya Frea via chat WA, katanya merasakan juga, tapi dia memilih diam di dalam kamar karena masih belum pada siap untuk lari keluar. Sampai di depan kamar 2003, pintu kamar ternyata tertutup dan terkunci, aku lupa mencabut kuncinya ketika keluar. Aku turun lagi ke Lobby minta dibukakan, baru mau beranjak naik ke lantai II, gempa dengan goyangan yang hampir sama terjadi lagi. Aku lari keluar gedung, berpanas-panasan sambil melihat gedung hotel The Sya, firasatku sudah tidak enak, sedikit was was, tapi bagaimanapun juga, aku harus istirahat biar maksimal nanti liputan di lapangan.

Aku kembali beranjak masuk, naik melalui tangga dan menuju kamar diiringi petugas yang hendak membukakan pintu. Chat dari mbak Jhe dan teman temanku di Lombok, juga istriku masuk mengabarkan status Gempa di BMKG yang barusaja mereka terima, sepertinya mereka juga khawatir, tapi seperti kata staff hotel, kujelaskan bahwa aku insya Allah baik baik saja, tidak ada kerusakan dan gempanya tidak merusak.

Setelah itu, aku memilih beristirahat, rebahan sambil menunggu waktu Ashar tiba. Karena ngantuk dan badan yg letih, aku tertidur. Dering panggilan di hapeku membangunkanku, terasa baru sebentar saja aku terlelap, dengan malas kuangkat telpon dari teman kantorku yang juga menanyakan status gempa yang barusaja terjadi di palu. Setelah panggilan itu putus, aku memilih mandi kemudian sholat ashar. Jadwal kumpul yang kubuat seharusnya pukul 16.00 molor menjadi 16.20. Tim semua kumpul dan memutuskan untuk berangkat ke Lokasi penyelenggaraan event Palu Nomoni III di Teluk Talise kota Palu.

Ifa, Genpi Palu

Suzana, Genpi Palu
Team Liputan, kurang Lengkap


Kami berangkat menggunakan 3 mobil, kondisi jalan sudah mulai ramai, bahkan bisa disebut mulai macet. Beberapa ruas jalan pintas menuju lokasi sudah ditutup dan padat sesak. Masyarakat kota Palu begitu antusias, berbondong bondong sepanjang jalan menuju Teluk Talise. Bahkan ID Card "ALL ACCESS" kami pun tak bisa banyak menolong, akhirnya driver kami memilih parkir di lapangan TVRI yang berlokasi persis di depan venue utama.

Bersambung ke Part II | Part III Baca Disini

I consider myself a professional blogger because I treat it with hard work, dedication, and a vision. Because I earn a little money from it and because I have been able to build marketable skills as a result of it. Get in touch with me via Google+ or Facebook.


EmoticonEmoticon