Kamis, 20 September 2018

#SekolahRelawan, Ajang Menimba Ilmu Menjadi Manusia yg Memanusiakan Orang Lain

Pemuda2 setempat yg bergabung dibawah GPA (Gabungan Pecinta Alam)

Ditulis oleh : Dik Yusi Laman - Bali

Entah sudah berapa daerah bencana di Indonesia kusambangi, baru Santong - Lombok Utara yang kutinggalkan dengan berlinang air mata. Aku bukan model manusia yg suka ber-akrab ria ngobrol secara pribadi, karena aku ini aslinya sangat emosional. Gampang meledak tapi juga gampang terenyuh. Aku cenderung jaga jarak, supaya otak dan hati tetap netral dalam berkegiatan.

Relawan-relawan yg bergabung di Posko Sekolah Relawan datang dari berbagai daerah dan negara secara pribadi maupun sebagai anggota organisasi-organisaso relawan, dan persamaannya cuma rata-rata koplak dan suka ngebully nenek-nenek. Anak-anak muda GPA (Gabungan Pecinta Alam) Santong yg gak ada capeknya itu cuma bertukar senyum saat kami papasan atau ngobrol serius urusan kegiatan. Penduduk sekitar Basecamp Sekolah Relawan di Santong juga cuma nyapa "Bundaaaa ...." pas aku lewat. Kami bahkan mungkin tidak saling tahu nama masing-masing. Semua terasa mengalir biasa saja, seperti di daerah-daerah bencana lainnya.

Relawan yg tersisa dihari kepulanganku

Tapi saat pamit hari Selasa lalu setengah mati aku menahan tangis, apalagi saat Inak Rus & ibunya Papuk Imo memelukku erat dengan terisak-isak. Yang paling berat saat pisah di airport dgn Chef Van Gooy, padahal kami baru ketemu di bencana Gempa Lombok saja, dan semua ini membuka mataku tentang makna dari nama "SEKOLAH RELAWAN" (SR).

SR bukan institusi edukasi formal, tidak ada kelas apalagi sertifikat. Tapi pola relawanan yg diterapkan sehari-hari memungkinkan siapa saja yg berkegiatan bareng SR bisa belajar jadi relawan yg sesungguhnya, asal punya niat berbagi, dan cukup peka untuk menggunakan otak & hati. SR membuat kita belajar menjadi manusia yg tahu memanusiakan orang lain, dalam kehidupan yg kita jalani sehari-hari.

6 minggu bergabung dgn Posko SR di "Gempa Lombok", saya (Dik Yusi Laman - Bali) - yg praktis berlabel Relawan Senior - belajar banyak. SR mengarahkan dan mencontohkan pada semua relawan yg bergabung bahwa relawanan bukan soal gagah-gagahan mengibarkan bendera organisasi, seperti binatang menandai daerah kekuasaannya. Relawanan bukan ajang sok-sokan siapa lebih pengalaman di lapangan, apalagi gegayaan merasa posisi & tugasnya lebih penting dari orang lain - termasuk dari sesama relawan. Dan terlebih lagi, relawanan bukan tentang merasa menjadi pahlawan bagi yg membutuhkan. Tidak ada sepotongpun ucapan maupun prilaku yg mencerminkan pemikiran politik masing-masing, karena egoisme dan kepicikan adalah hal yang sangat tidak patut dibawa-bawa dalam kegiatan kemanusiaan.






Relawan sepatutnya jadi sosok manusia yang keberadaannya menimbulkan rasa nyaman dan memberi manfaat pada orang2 sekelilingnya - dimanapun dan kapanpun!!

I have no enough words to express my gratitude in having such a big honor to work together with SR, dengan semua relawan yg bergabung di Posko Relawan Santong, KLU, dan juga dengan anak2 GPA. Kalian mungkin kalah umur dan pengalaman dibanding aku, tapi kalian sudah jadi contoh nyata, bahwa relawanan bisa dilakukan oleh siapa saja kapan saja dimana saja, tanpa perlu menunggu punya waktu luang apalagi nunggu punya duit lebih!!

THANK YOU & love you all, Guys 😘😘😘

I consider myself a professional blogger because I treat it with hard work, dedication, and a vision. Because I earn a little money from it and because I have been able to build marketable skills as a result of it. Get in touch with me via Google+ or Facebook.


EmoticonEmoticon